Sering Batuk, Ternyata karena Alergi

Aku sering banget batuk, frekuensinya bisa dibilang hampir setiap hari. Bukan karena aku pernah TBC, tetapi karena alergi yang kebanyakan dipicu oleh makanan.

Batuk di tengah pandemi Covid-19 ini membuat kita merasa jadi suspect Corona nggak sih? Kalau lagi belanja di supermarket, sebisa mungkin kutahan biar nggak batuk, takut orang-orang pada kabur.

Jangankan orang lain, suamiku sendiri aja sering curiga kalau aku udah batuk-batuk. “Jangan-jangan Corona?” begitu katanya dengan raut muka serius. Haha.

Tapi tenang, aku selalu punya cara sendiri meredakan gejala batuk alergiku, yaitu minum minuman panas. Kalau batuknya mereda, ya berarti pertanda alergiku sedang kambuh, bukan Corona.

Aku mau ceritain gimana awal mulanya kok aku bisa gampang banget batuk. Kupikir selama ini karena tenggorokanku lemah atau paru-paruku terlalu banyak kena asap rokok sebagai perokok pasif.

Aku sudah sering batuk sejak lulus kuliah dan masih ngekos, tetapi frekuensinya nggak sesering sekarang. Biasanya aku akan batuk-batuk kalau abis minum es atau kalau kedinginan.

Setelah menikah dan tinggal di rumah mertuaku, eh kok hampir tiap malam nggak bisa tidur karena batuk-batuknya parah banget. Nggak jarang aku jadi sesak napas dan bahkan tidur dalam keadaan duduk biar dadaku nggak sesak.

Akhirnya aku dan suami memutuskan untuk periksa ke dokter spesialis paru. Setelah diperiksa dan rontgen, paru-paruku dinyatakan bersih dan sehat-sehat aja. Dokter kemudian menyarankan untuk melakukan tes alergi di poli THT dan Alergi.

Aku menjalani tes alergi di RS. Bethesda Jogja. Nggak banyak yang antri tes alergi waktu itu, cuma aku dan bapak-bapak tua yang kulitnya merah-merah.

Sebelum memutuskan untuk tes alergi aku juga udah cari info terlebih dahulu. Reaksi alergi bisa berbeda pada masing-masing orang. Ada yang gejalanya gatal seperti bapak-bapak yang antri bersamaku itu, ada pula yang batuk, bersin, hidung tersumbat, mata dan hidung berair.

Yang paling berbahaya adalah ketika alergi tersebut memicu reaksi anafilaksis, dimana kondisi ini mengakibatkan tekanan darah turun dengan tiba-tiba sehingga dapat menyebabkan kematian jika tidak segera mendapat pertolongan.

Jenis tes alergi ada beberapa jenis, diantara tes melalui kulit, tes melalui darah, dan diet eliminasi. Tes alergi di RS Bethesda adalah dengan metode tusuk kulit (skin prick test).

Begitu masuk ruangan tes, aku diminta menggulung lengan bajuku hingga siku. Kemudian aku diminta meletakkan lengan bagian bawahku pada meja dalam keadaan terbuka dan perawat membersihkan area tersebut dengan alkohol.

(Disclaimer: Ini kejadiannya udah tahun 2017 ya, jadi aku udah agak lupa detail kecilnya).

Perawat kemudian menusuk lenganku dengan sebuah alat seperti jarum tetapi tumpul. Rasanya seperti tertusuk sama paku kertas atau push pin tetapi nggak sesakit itu. Pokoknya lebih sakit kalau disuntik.

Kalau nggak salah ada 26 tusukan di lengan kiriku. Perawat menuliskan tanda + dan – serta angka 1 sampai 24 di samping bekas tusukan di lenganku. Kemudian dokternya datang dan mengeluarkan satu kotak seperti koper yang isinya botol-botol dengan tutup pipet (seperti botol serum).

Botol-botol tersebut isinya adalah cairan alergen yang dilabeli oleh tulisan seperti debu, udang, susu sapi, kacang tanah, dan sebagainya. Dokter lalu meneteskan cairan-cairan tersebut ke bekas tusukan di lenganku.

foto ini ilustrasi aja ya, sumbernya diambil dari: https://www.allergygirleats.com/skin-prick-test/

Setelah selesai, aku diminta tetap pada posisi tersebut selama beberapa menit sambil menunggu ada reaksi yang muncul pada permukaan kulit. Aku mengamati perubahan pada lenganku. Pada beberapa area tusukan, muncul bentol-bentol seperti biduran. Ada yang area bentolannya luas dan ada yang sempit.

Setelah menunggu beberapa saat, dokter kemudian menempelkan semacam selotip bening (tapi sepertinya bukan selotip sih, hehe) di area tusukan. Luas area bentol pada kulit kemudian dijiplak menggunakan bolpen biru. Selanjutnya selotip tersebut ditempelkan pada kertas berisi daftar alergen hirup dan alergen makanan.

Tanda + ternyata adalah kontrol positif, sebagai acuan penanda reaksi positif terhadap alergen. Sementara tanda – juga sebagai acuan penanda bahwa tidak terjadi reaksi terhadap alergen.

Setelah diukur dengan semacam penggaris, diameter kontrol negatifnya sebesar 2,5 mm sementara kontrol positifnya 3,5 mm. Artinya, jika diameter bentolan pada alergen diantara 2,5 – 3,5 mm (atau lebih), berarti aku dinyatakan alergi terhadap alergen tersebut.

Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa aku alergi terhadap debu rumah, serpihan kulit anjing, udang, kepiting, ayam negeri dan kacang tanah. Aku juga bertanya sama dokternya, apa aku juga alergi terhadap dingin?

Kata dokter, suhu dingin cuma memicu terjadinya gejala alergi saja. Reaksi alergiku tergolong yang gejalanya ringan, jadi kadang muncul gejala kadang enggak, jika suhu sedang dingin kemungkinan besar akan memicu timbulnya gejala alergi.

Seperti terlampir pada foto di atas, aku paling sensitif sama debu rumah (bentolannya sampai 5 mm).

Aku jadi paham kenapa aku batuk-batuk parah semenjak tinggal di rumah mertua, ya karena rumahnya sekotor itu. Rumah yang bertahun-tahun dihuni sama 4 pria, bisa bayangin kan gimana kotornya, haha. Pantes aja tiap aku bersih-bersih rumah, selalu berakhir batuk-batuk di malam hari.

Untuk alergen seperti udang dan kepiting, bisalah dihindari dikit-dikit. Yang susah itu ayam negeri sama kacang tanah. Gimana aku bisa hidup tanpa sate ayam dan gado-gado. Huhu.

Dulu awal-awal masih bisa jaga makan dengan menghindari pantangan tersebut. Sekarang sih cukup tau konsekuensinya aja, lalu meredakan gejalanya dengan minum minuman panas.

Demikian cerita pengalamanku tes alergi di rumah sakit. Kalau nggak salah ingat, biaya tes alergi tersebut sekitar Rp 700.000 kala itu. Mungkin akan lebih murah kalau tes alerginya di laboratorium klinik seperti Prodia, Pramita, dan sebagainya.

Jika kalian atau keluarga kalian mengalami batuk yang frekuensinya lumayan sering, disarankan untuk segera cek ke rumah sakit. Bisa jadi disebabkan oleh bronkitis, TBC atau ternyata reaksi alergi sepertiku.

Oh iya, aku juga pernah mengalami TBC kelenjar yang gejalanya justru bukan batuk melainkan adanya benjolan di leher hingga harus operasi. Cerita lengkapnya klik tautan di bawah ya.

Baca juga: Benjolan di Leher, Operasi, dan 6 Bulan Pengobatan

Semoga tulisan ini dapat sedikit memberi informasi terkait tes alergi. Terakhir, semoga kita semua selalu diberikan rezeki berupa kesehatan. Aamiin. ^^

3 Comments

  1. Zam

    April 14, 2020 at 12:33 am

    wah, membantu sekali informasinya. aku belum pernah test ke dokter, tapi cuma bisa niteni saja, misal kalo makan seafood, pasti gatal. semenjak di sini, aku sering batuk-batuk saat masuk musim semi. sepertinya aku alergi dengan serbuk sari yang beterbangan setiap kali musim semi dan batuk-batuk. ini aku juga batuk-batuk pendek-pendek, ngeri dikira corona juga..

    1. Linda Maya

      April 14, 2020 at 3:17 pm

      Haha iya mas.. nanti tes aja biar tau pastinya apa aja yg bikin alergi.. bapak2 yg tes bareng aku itu bentolannya gede2 banget dan banyakkk.. sepertinya lebih parah dari aku gejala alerginya..

  2. April

    November 7, 2020 at 10:48 am

    Wah membantu sekali. Kalo aku didiagnosis rhinitis alergi. Biasanya kalo mau ujan atau pas ujan jadi flu berat tapi pas ujannya berhenti flunya jg berhenti. Trus sering batuk-batuk. Kata dokter alergiku antara debu rumah, asap, sama serbuk sari. Kadang juga sampai kerasa sesak. Dulu pas masih kecil sering banget alergi tapi reaksinya ke kuliat pas udah kuliah jadi alergi ke pernafasan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.