Jadi Sering Jerawatan sejak Pandemi? Maskermu Penyebabnya

Haloooo teman-teman online-ku… rasanya sudah lama banget nggak menyapa lewat tulisan. Ternyata last post udah tiga bulan yang lalu. Sibuk apa sih sampai meninggalkan rutinitas yang sering kuberi label ‘hobi’ ini?

Saat ini, aku sedang sibuk merintis small business yang cukup menyita waktu, karena ada banyak hal yang harus aku persiapkan dan pelajari. Nanti aku ceritain prosesnya ya.

Bagaimana kabar kalian? Apakah masih semangat menjalani hari-hari di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kunjung ada titik terang ini? Semoga masih tetap sehat dan semangat ya.

Kita semua dihadapkan pada kondisi yang berat di tahun ini baik secara fisik, mental maupun finansial. Tetapi percayalah, kita pasti bisa melaluinya bersama-sama. Mari kita kerahkan segala daya upaya yang kita punya untuk bertahan, cheer up girls! Badai pasti akan segera berlalu.

Disini aku bakalan lebih banyak ngobrol-ngobrol aja daripada review produk skincare. Topiknya adalah tentang jerawat, tapi kali ini berbeda dengan jerawat yang biasanya. Apa yang membedakan? Pembedanya terletak pada penyebab munculnya jerawat tersebut.

Kalian merasa jadi sering jerawatan nggak sih belakangan ini? Bisa jadi gara-gara masker loh. Di era new normal ini, muncul istilah baru dalam dunia skincare yaitu mask acne atau sering disingkat sebagai maskne. Maskne adalah jerawat yang disebabkan oleh pemakaian masker sebagai perlindungan terhadap virus Corona.

Area kulit wajah yang tertutup masker akan menjadi lembab karena keringat dan lebih berminyak sehingga dapat memicu tersumbatnya pori-pori serta tumbuhnya bakteri penyebab jerawat. Selain itu, kulit juga akan sering mengalami gesekan dengan masker yang tentunya dapat memperparah kondisi kulit. Belum lagi jika kita harus ber-make up di balik masker, risiko tumbuhnya jerawat makin besar.

Aku sedang mengalami hal ini. Kupikir aku jadi sering jerawatan karena breakout akibat nggak cocok pakai skincare yang baru aku cobain. Namun setelah aku perhatikan, ternyata jerawat tersebut hanya muncul di area-area yang terlindung oleh masker seperti hidung dan dagu.

Aku memang jarang keluar rumah, tetapi meski di dalam rumah sekalipun, aku sering mengenakan masker. Small business yang sedang aku rintis mengharuskanku bersinggungan dengan bahan kimia setiap harinya, jadi aku memakai masker bukan hanya untuk proteksi diri terhadap Covid-19 tetapi juga side effect dari pekerjaan.

Masuk akal kan kalau aku juga mengalami maskne? Nah, dari sinilah aku mulai mempelajari tentang hal ini.

Kita tidak mungkin dong nggak pakai masker hanya karena takut jerawatan? Covid-19 jauh lebih berbahaya daripada jerawat, jadi tentu saja ini bukan solusi yang tepat.

Hal pertama yang dapat kita lakukan untuk mencegah maskne adalah dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, sehingga kita tidak perlu sering-sering pakai masker. Ada faedahnya juga ternyata work from home bagi kesehatan kulit wajah.

Namun bagi yang tetap harus bekerja ke kantor, solusinya adalah memilih masker yang nyaman. Jika penggunaan masker medis sekali pakai dirasa terlalu boros, kalian bisa pilih masker kain dengan bahan yang lembut dan dapat menyerap keringat dengan baik seperti katun.

Hal kedua yang perlu kita perhatikan adalah kebersihan masker. Meski menggunakan masker kain yang sifatnya reusable sekalipun, gantilah masker secara berkala setiap 4 jam sekali.

Jika kita harus beraktivitas di luar rumah dalam waktu yang lama, bawalah cadangan masker. Jangan menggunakan satu masker saja untuk seharian. Masker yang kotor dan lembab karena keringat dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri pemicu jerawat.

Cara ketiga adalah dengan mengurangi pemakaian makeup di bawah masker. Bagi beberapa jenis pekerjaan tertentu yang menuntut kita untuk selalu berdandan, mungkin sulit untuk dihindari ya. Atau mungkin bisa disiasati dengan menggunakan make up di area yang tidak tertutup masker saja? Idk.

Kemudian cara keempat adalah jangan skip skincare routine kalian. Banyak yang salah persepsi tentang hal ini, pernah dengar celetukan “sejak pandemi jadi hemat skincare ya sis, tiap keluar rumah kan pake masker, nggak perlu dandan juga jadi nggak ribet”. Kalau hemat makeup mungkin iya, tetapi kalau hemat skincare harusnya enggak sih.

Analoginya, ketika habis mandi kamu lanjut pakai hand body lotion biar kulit nggak kering dan bersisik. Nah, skincare juga begitu, sehabis cuci muka ya pakai rangkaian skincare biar kulit wajahmu tetap sehat. Nggak ada hubungannya sama ada pandemi atau nggak.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam step skincare kita untuk mencegah terbentuknya maskne, diantaranya:

  1. Fokuslah meningkatkan kelembaban kulit.

    Penting bagi kita untuk menjaga kulit agar tetap stay hydrated selama memakai masker agar area di bawah masker tidak lembab karena keringat dan berminyak. Kuncinya adalah menggunakan pelembab yang oil-free dan non-comedogenic.

    Pilih pelembab yang mengandung ceramide, glycerin, atau niacinamide. Ceramide dapat membantu memperbaiki skin barrier yang dapat rusak karena iritasi akibat gesekan antara masker dan kulit. Glycerin adalah senyawa yang berfungsi menahan kadar air pada kulit sehingga dapat terjaga kelembaban alaminya. Sementara niacinamide berfungsi menenangkan kulit yang mengalami inflamasi seperti kemerahan.

  2. Persingkat step skincare routine-mu di pagi hari.

    Yang kita butuhkan adalah gentle cleanser, moisturizer dan sunscreen saja. Tidak perlu melakukan 10 step skincare routine ala Korea di pagi hari, yang simpel-simpel aja. Sementara untuk pemakaian produk skincare dengan active ingredients hanya di malam hari saja dimana kulit akan istirahat.

  3. Hindari eksfoliasi yang berlebihan.

    Eksfoliasi secara physical dengan menggunakan scrub dapat menggesek kulit dan merusak skin barrier. Imbasnya kulit akan lebih gampang jerawatan. Kita bisa mengeksfoliasi kulit secara chemical menggunakan toner atau serum eksfoliator di malam hari, tapi jangan keseringan juga. Jika produknya berupa serum eksfoliator yang lebih rich kandungannya, gunakan maksimal 3 kali seminggu.

  4. Gunakan sunscreen.

    Bagaimanapun cuacanya, entah itu pakai masker atau tidak, pemakaian sunscreen di pagi hari tidak boleh di-skip. Sinar UV saja bisa menembus kaca, apalagi cuma masker yang terbuat dari kain kan. Selalu ingat bahwa produk skincare yang kita beli mahal-mahal itu tidak dapat bekerja dengan baik jika kulit tidak dilindungi dengan sunscreen.

  5. Kontrol produksi minyak pada wajah.

    Bagi yang kulitnya berminyak dan acne prone sepertiku, akan cenderung lebih berisiko terhadap maskne. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengontrol produksi minyak yang berlebihan, salah satu caranya ya menjaga kelembaban alaminya dengan menggunakan produk moisturizer yang tepat.

    Selain itu, kita juga bisa menggunakan clay mask untuk membantu mengontrol produksi minyak yang berlebihan. Pemakaiannya jangan keseringan ya, bagaimanapun minyak alami pada wajah itu juga punya fungsi yang baik bagi kulit. Cukup gunakan sekali seminggu saja biar kulit nggak kekeringan dan justru menyebabkan masalah baru.

Ngomong-ngomong soal clay mask, aku sekarang lagi nyobain masker organik dari Poupeepou. Selama ini sering pakai clay mask yang bentuknya tube gitu dan ternyata aku kurang istiqomah buat maskeran, alhasil kering sebelum habis karena jarang dipakai. Jadi aku beralih ke masker clay yang kemasannya sachet aja, meski sedikit lebih ribet karena harus dicampur air/rose water/toner terlebih dahulu.

Poupeepou ini adalah merk lokal yang produknya berupa masker organik yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti oatmeal, matcha, kopi, belerang dan sebagainya. Meski bahan-bahannya alami, tidak ada jaminan bahwa pemakaian masker organik ini bebas dari iritasi ya.

Pastikan untuk melakukan patch test dulu di bagian kulit yang tersembunyi misal di belakang telinga untuk mengetahui reaksinya. Lanjutkan pemakaian jika tidak ada tanda-tanda iritasi yang muncul.

Harganya murah banget, under Rp 10.000 dan tersedia dalam berbagai varian. Tetapi yang pernah aku coba baru yang Volcanic Clay Mask. Masker ini terbuat Manfaat dari masker organik Poupeepou yang varian Volcanic ini adalah dapat menyerap minyak dan mengurangi komedo. Produk ini mengklaim dapat mengikat bakteri dan racun pada permukaan kulit hingga ke dalam pori-pori.

Kemasannya seperti sachet gitu dengan ukuran 25 gram. Satu sachet bisa digunakan hingga 5 kali maskeran. Setelah kemasannya dibuka, kita dapat menyimpannya di tempat yang tidak lembab untuk menjaga kualitas maskernya. Jangan gunakan masker jika sudah lebih dari 6 bulan sejak kemasannya dibuka, instruksi ini tertera pada kemasannya yaitu simbol PAO 6 M (period after opening).

Cara pemakaiannya campurkan masker organik dengan air mineral atau rose water. Kita juga bisa mencampurkannya dengan hydrating toner atau serum yang sifatnya bukan eksfoliator. Disini aku mencampurkannya dengan toner Hada Labo. Selanjutnya diaduk merata dan dioleskan menggunakan kuas masker pada wajah. Diamkan selama 15 menit kemudian bilas dengan air bersih.

Teksturnya berupa bubuk yang berwarna abu-abu seperti abu vulkanik. Ketika dilarutkan dengan cairan, persis kayak adonan semen, hehe. Masker ini juga nggak memiliki bau yang spesifik, kupikir bakalan bau belerang gitu. Untungnya nggak berbau sama sekali.

Selama pemakaian tidak ada sensasi panas maupun gatal. Jangan tunggu sampai masker terlalu kering dan kulit terasa kencang, cukup ikuti instruksi diamkan 15 menit lalu bilas sampai bersih. Setelah dibilas, aku notice di bagian hidung muncul bintik-bintik komedo putih, berarti klaimnya yang dapat membersihkan komedo terbukti benar.

Step berikutnya setelah maskeran, kita perlu mengembalikan kelembaban kulit dengan melanjutkan rangkaian skincare seperti biasanya yaitu pakai hydrating toner kemudian pelembab. Skip step eksfoliasi dulu ya.

Oh ya, bagi kalian yang penasaran apakah masker organik ini sudah mengantongi lisensi BPOM atau belum, katanya sih sedang dalam proses pengajuan gitu. Di marketplace juga sudah banyak kok masker organik yang sudah BPOM, mirip-mirip begini juga tetapi biasanya dikemas lebih eksklusif.

In the end, skincare journey masing-masing orang pasti berbeda. Yang cocok di aku belum tentu cocok di kalian, begitu pula sebaliknya. Disini aku cuma menulis review aja sebagai catatan perjalanan skincare-ku yang siapa tahu dapat dijadikan bahan pertimbangan kalau kalian mau jajan skincare.

Okay, see you on the next post ~

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.